Kamis, 19 April 2012
15.47
Dari corong
pengeras suara perahu nelayan, gema takbir akbar membahana memecah kesunyian
malam
di Pulau Ende, Kamis malam, 9 September 2010. Malam itu, sekitar 25 perahu nelayan didandani lampu hias aneka warna. Kerlip cahanya menambah semarak malam takbiran. Kembang api yang pecah di langit Pulau Ende yang sejak sore diguyur hujan, kian membuat suasana Pulau Ende terang benderang.(gambar: Suasana Sholat Idul Fitri di Masjid Nurul Iman-Ekoreko)
di Pulau Ende, Kamis malam, 9 September 2010. Malam itu, sekitar 25 perahu nelayan didandani lampu hias aneka warna. Kerlip cahanya menambah semarak malam takbiran. Kembang api yang pecah di langit Pulau Ende yang sejak sore diguyur hujan, kian membuat suasana Pulau Ende terang benderang.(gambar: Suasana Sholat Idul Fitri di Masjid Nurul Iman-Ekoreko)
Itulah suasana
malam lebaran di Pulau Ende. Pulau ini merupakan satu-satunya kecamatan di
Kabupaten Ende yang penduduknya seratus persen beragama Islam. Di tengah
mayoritas masyarakat Flores yang Katolik, gema takbir, apalagi di atas perahu,
memang menghadirkan suasana lain. Malam takbiran di atas perahu ini memang baru
tiga tahun terakhir ini digelar. Ini bentuk pengungkapan mereka bahwa hidup dan
kehidupan mereka selalu di atas laut dan lautlah penopang hidup mereka.
Bagi penduduk
asli Pulau Ende, pulau mereka merupakan pulau keramat yang berbeda dengan
pulau-pulau di sekitarnya. Menurut keyakinan mereka, pulau ini merupakan pulau
asli yang mempunyai ket
erikatan dengan
“tanah suci” Mekkah. “Air tidak akan naik menenggelamkan Pulau Ende selama air
tidak menenggelamkan Mekkah” kata Abu Bakar Haji Yusuf, imam masjid Matinumba.
Karena itu, kata Abu Bakar, Islam di Pulau Ende juga tidak akan lenyap selama
Islam di Mekkah masih ada.
Islam di Pulau
Ende memang telah memiliki sejarah yang panjang. Sejarah secara khusus tentang
masuknya Islam di Pulau Ende dan Ende secara umumnya kurang tercatat secara
baik.
Imam Masjid
Metinumba, Abubekar Haji Yusuf mengatakan, konon agama Islam di Pulau Ende
dibawa langsung oleh Imam Syafi’i yang katanya diutus langsung Nabi Muhamad SAW
ke Pulau Ende. Imam Syafi’i yang tiba di Pulau Ende berhasil menyebarkan agama
Islam di sana. Setelah seluruh warga Pulau Ende memeluk agama Islam, Imam
Syafi’i kemudian melanjutkan perjalanannya ke daera-daerah lain di Pulau Flores
untuk menyebarkan agama Islam.
Dia mengatakan,
saat Portugis masuk dan menguasai Pulau Ende, orang-orang di Pulau Ende sudah
memeluk agama Islam. Karena itu, ketika Portugis meninggalkan Pulau Ende,
orang-orang Pulau Ende yang sudah memeluk agama Katolik kembali memeluk agama
Islam. Pada akhirnya, agama Katolik yang sudah ada dan dianut orang Pulau Ende
berangsur-angsur ditinggalkan dan seluruh warga Pulau Ende memeluk agama Islam
dan turun temurun hingga saat ini.
Masih penuturan
Abubekar Haji Yusuf, jauh sebelum Imam Safi’i datang menyebarkan agama Islam di
Pulau Ende, ada seorang tokoh besar yakni Jal Jaelani Wal Ikram yang sudah
lebih dahulu tiba di Pulau Ende. Keberadaan Jal Jaelani Wal Ikram oleh
masyarakat Pulau Ende dikenal dengan nama Embu Rembotu. Embu dalam bahasa
daerah Ende-Lio berarti nenek. Konon, kata Abubekar Haji Yusuf, Jal Jaelani Wal
Ikram atau Embu Rembotu adalah utusan langsung Nabi Muhamad SAW untuk menemukan
Pulau Ende.
Saat ini,
tempat tinggal Embu Rembotu yang berada di atas salah satu puncak bukit yang
rata, dikenal keramat oleh warga Pulau Ende. Di tempat ini terdapat sebuah batu
ceper yang berbentuk bulat dan dibawahnya terdapat pasir laut berwarna putih.
Di tempat ini jika orang duduk melingkarinya, berapa pun jumlahnya bisa
mengitari batu tersebut. Jika hanya datang bertiga dan duduk bersila mengitari
batu ini akan mencukupi. Demikian juga ketika datang 12 orang atau lebih tetap
bisa duduk mengitari batu tersebut. Tempat ini, masih menurut Abubekar Haji
Yusuf, sering dikunjungi Soekarno saat menjalani masa pembuangan di Ende.
Bahkan saat ini, tempat itu sering didatangi Guntur yang adalah salah satu
putra Bung Karno.
Penyebaran
agama Islam di Pulau Ende tidak terlepas pula dari pengaruh Portugis yang
sempat menjadikan pulau Ende sebagai pusat pemerintahan. Hal itu nampak dari
keberadaan benteng Portugis yang dibangun di Metinumba Desa Paderape Kecamatan
Pulau Ende. Sejarah benteng Portugis di Ende kurang begitu baik tercatat dalam
sejarah.
Jauh sebelum
akhir abad XV, para pastor telah membangun hubungan baik dengan Pulau Ende
tetapi belum memiliki stasi di sana. Dalam tahun 1594 atau 1595, Pulau Ende
diserbu oleh perompak-perompak islam. Mereka menyerang kampung-kampung dan
menawan sejumlah orang untuk dijadikan hamba sahaya. Penduduk melarikan diri ke
pantai Flores dan tinggal di sana beberapa lamanya sambil menyerahkan nasib
pada kebaikan hati penduduk setempat.
Lalu, datanglah
Pater Pacheco dari Solor mengunjungi mereka. Mereka ingin kembali ke pulau
mereka tetapi tidak berani, takut akan diserang lagi. Akhirnya pater berhasil
membujuk mereka untuk kembali ke tempat asal, dengan janji di sana akan
dibangun sebuah benteng yang akan dipimpin seorang panglima Portugis. Penduduk
berjanji akan masuk katolik. Pater Pacheco pergi bersama mereka dan memimpin
sendiri pekerjaan pembangunan benteng. Bersamaan dengan itu dimulailah karya
pertobatan yang berjalan cukup lancar juga. Jumlah orang kristen sebesar 8000
orang di sekitar tahun 1600.
Di Pulau Ende,
terdapat tiga daerah stasi yakni di Numba dengan pelindung Santu Dominikus,
stasi Sara Boro dengan pelindung Santa Maria Magdalena dan stasi Curolallas
dengan pelindung Santa Katarina dari Siena. Namun Baraai juga merupakan tempat
orang-orang katolik berada pada masa itu.
Raja-raja Makasar
rupanya mempunyai hubungan-hubungan rahasia dengan Flores. Di Mari, ada seorang
raja namanya Ama Kera yang rupanya berusaha untuk memperoleh hegemoni atas
seluruh Flores. Dia meminta raja Makasar untuk menyerang umat katolik. Ada dua
permintaannya yakni agar dikirimi sebuah armada guna menaklukan Solor ke bawah
kekuasaan raja Goa dan kedua adalah agar diangkat menjadi Raja Muda.
Imbalannya, sebagai fassal raja Goa, Ama Kera harus menyerahkan upeti yaitu 100
hamba dan emas dalam jumlah besar kepada raja Goa setiap tahun. Permintaan Ama
Kera ini disetujui raja Goa.
Dengan sebuah
armada yang besar, orang-orang Makasar akan menyerang dan merebut benteng Solor
dan Pulau Ende dan tempat-tempat lain pun akan menyusul dengan gampang. Seorang
kristen yang murtad, namanya D. Joao Djuang diangkat sebagai panglima armada
tersebut. Armada ini terdiri dari 37 buah kapal dengan awak sejumlah 3000
orang. Mereka datang dan berlabuh di muka benteng Solor, yang menurut dugaan
mereka tidak mempunyai pertahanan yang baik. Tapi tak lama sebelumnya, telah
tiba di sana awak sebuah kapal Portugis yang terdampar di Jawa. Awak kapal
dengan panglimanya Firnao Pereira berada di Solor.
Rencana orang
Makasar merebut benteng secara mendadak gagal samasekali. Lalu mereka beralih
haluan ke pantai selatan daratan Flores. Mereka kemudian ke Sikka dan menuntut
supaya penduduk menyerahkan pastor dan orang Portugis di sampig sejumlah besar
uang. Tuntutan itu ditolak dan kemudian orang Makasar mencoba mendarat namun
mereka menderita kerugian besar. Katanya, sekitar 100 orang dari mereka mati
terbunuh.
Mereka kemudian
berlayar ke Paga dan di sana hanya menuntut upeti dan tuntutan dipenuhi. Mereka
lalu berlayar ke tempat sahabat mereka raja Ama Kera. Ketika berada di sana,
Pater Heronimo Mascarenhas, pastor Lena, naik ke kapal untuk emncari tahu apa
maksud sebenarnya orang-orang Makasar itu. D. Joao mengatakan, dia bermaksud
memusnahkan agama kristen di Pulau Ende tetapi mereka akan membiarkan orang-orang
Portugis selamat. Pater Mascarenhas kemudian mengirimkan kabar ini ke Pulau
Ende dan dari sana secepatnya meminta bantuan dari Solor.
Pater
Mascarenhas seolah-olah bertindak sebagai pengantara tetapi terutama untuk
mengulur-ulur waktu sampai datangnya bantuan dari Solor. Bantuan yang
diharapkan itu datang, tepat pada saat orang Makasar hendak mendarat di Pulau
Ende. Sekarang, D. Joao melihat apa sebenarnya maksud Pater Mascarenhas yang
saat itu ada di atas kapal yang ditumpangi D. Joao. Dia lalu menyuruh
orang-orangnya membunuh imam itu dan seorang pemuda yang menyertainya dengan
tombak.
Datangnya
secara mendadak orang Portugis dari Solor, maka timbulah kekacauan yang besar
di kalangan pasukan-pasukan pendarat orang Makasar. Dengan banyak kerugian, mereka
terpaksa kembali ke kapal mereka. Armada Makasar itu menderita kerugian sekitar
800 orang tewas. Ama Kera dan D. Joao mengancam akan kembali sesudah dua bulan,
tetapi ternyata mereka tidak muncul lagi. Raja Makasar tidak mau mencoba lagi
untuk kedua kalinya. `
Sumber
Dominikan menyebutkan dari tahun 1614, selama sembilan tahun lamanya orang Ende
sudah tidak mempunyai imam dan dari tahun 1617 sudah 11 tahun tidak ada imam di
sana. Bulan Nopember 1613, Van der Velde, orang Belanda yang berhasil merebut
benteng Solor mengunjungi Pulau Ende. Ia melaporkan, delapan tahun sebelumnya
penghuni benteng diusir oleh penduduk pribumi. Van der Velde ingin menciptakan
perdamaian antara orang islam dan orang kristen. Dia mau menyuruh orang merusak
benteng itu tetapi tidak berhasil. Datang Don Cosmo dari Sika, seorang katolik
yang berani dan setia. Dengan bantuan orang kristen, mereka memperbaiki benteng
dan mengusir orang islam dari sana.
Antara tahun
1620 dan 1630, terjadi sesuatu namun sumber tentangnya tidak jelas. Rouffaer
berpendapat peristiwa itu bisa direkonstruksikan. Seorang jurubahasa Portugis
rupanya telah melakukan ”hubungan gelap” dengan seorang gadis dari Barai.
Setelah itu, orang-orang Barai menyerbu gereja induk di dalam benteng dan
membunuh semua orang Portugis. Karena takut orang Portugis akan balas dendam
maka penduduk kembali lagi melarikan diri ke Flores dan seterusnya menetap di
sana.
Menurut
penduduk daerah ini, serangan dan pembunuhan terhadap orang Portugis terjadi
karena cerita yang agak lain. Di Pulau Ende pada waktu itu terdapat seorang
gadis yang cantik, namanya Rendo, puteri panglima benteng yaitu Luis Parela
Kumi Toro (Luis Pareira yang berjanggut merah). Gadis ini jatuh cinta pda
seorang letnan yang bernama Djebe dan letnan inipun jatuh cinta pada gadis itu.
Tetapi gadis cantik ini juga diincar oleh seorang imam dari benteng. Imam ini
membunuh Djebe.
Rendo melarikan
diri ke Flores dan di sana dia meninggal duni karena sedih dan letih. Untuk
membalas dendam atas pembunuhan Djebe itu, orang Barai lantas menyerbu benteng
dan membunuh orang Portugis di dalamnya. Orang-orang katolik melarikan diri dan
untuk sementara masih tetap beragama Katolik juga di tempat tinggal mereka yang
baru. Baru dalam tahun 1772 pastor terakhir meninggalkan Numba. Penduduk Pulau
Ende yang masih tinggal lambat laun menjadi islam semuanya.
Dalam bulan
Desember 1637, diberitakan dari Betawi bahwa Van Tombergen sudah berada di
Pulau Ende dan menyuruh ribuan orang mengangkat sumpah setiap kepada kompeni.
Mereka diminta mengibarkan bendera Belanda di kampung-kampung dan daerah Pulau
Ende menjadi daerah kompeni (Sejarah Gereja
Katolik Indonesia, 1974).
Pada
bulan Juni 1614, komandan Adrian van der Velde datang lagi ke Pulau Ende. Di
sana semua stasi tidak ada imam. Ada tiga orang bapa keluarga yang bertindak
menjadi pemimpin mereka. Ketiga orang ini yang saat pembatisan mendapatkan nama
Portugis sesuai kebiasaan pater-pater Portugis dengan nama masing-masing
Salvador Carvalhaes, bekas siswa semniari koleses Dominikan di Solor. Waktu itu
dia berumur 28 tahun dan sudah berkeluarga, rupanya dia seorang guru agama.
Kedua adalah Pedro carvalhaes juga seorang bapa berumur 40 tahun. Ia adalah
pemimpin umat. Pedro dan Salvador berasal dari Numba dengan gerejanya Santu
Dominikus. Yang ketiga adalah Manuel da Lima, berusia 40 tahun, ia dari Stasi
Saraboro. Manuel adalah seorang yang saleh yang selalu mengajak umat agar
selalu berkunjung dalam doa menghadapi percobaan demi Tuhan dan Agama.
Ketiga
bapak penduduk asli Pulau Ende ini kemudian diculik dan dibawa ke kapal dan
berlayar menuju Volowona (Wolowona saat ini). di sana orang-orang islam memaksa
ketiganya agar membuang agama mereka dan masuik agama Islam. ketiganya tetap
menolak dan diancam dengan kekerasan. Karena tetap bertahan dengan agamanya,
ketiganya diserahkan kepada algojo yang menyiksa mereka dengan kejam. Tiga hari
mereka bertiga diikat pada tiang di pantai, dipukul dan ditusuk-tusuk benda
tajam sehingga tubuhnya penuh luka dalam. Selanjutnya mereka dijemur dan
dipenggal kepalanya (Sejarah Kota Ende, FX Soenaryo dan kawan-kawan,
2006).
Pengaruh
Islam Sulawesi
Keberhasilan
Portugis merebut Malaka pada tahun 1511 berpengaruh pada wilayah-wilayah
Nusantara bagian timur, termasuk NTT. Meski tidak diketahui kapan persisnya
agama Katolik mulai berkembang, tetapi ketika tahun 1556 Portugis tiba pertama
kali di Solor, Pater Antonio Tavera OP telah membaptis 5.000 orang di Timor,
juga di Ende, Larantuka, dan Lewonama di Flores.
Pengaruh
Portugis dalam penyebaran agama Katolik mulai terlihat ketika misi Katolik
mulai diatur dengan kehadiran Uskup Pertama Jorge de Santa Luzia OP di Malaka
tahun 1561. Portugis mengirimkan tiga orang misionaris Dominikan pertama ke
Solor. Tahun 1566 Pastor Antonio da Cruz membangun sebuah benteng di Solor dan
sebuah Seminari di dekat kota Larantuka. Dari Solor dan Larantuka inilah
kemudian agama Katolik berkembang di Flores dan Timor. Di akhir abad ke-16,
agama Katolik telah meluas dan mempunyai sekitar 25.000 penganut. Terbesar
berada di Solor, Adonara, Flores, dan (Pulau) Ende (Sejarah Gereja Katolik
Indonesia, 1974).
Sementara
itu, perkembangan agama Protestan secara luas baru terjadi setelah Belanda
berhasil menggeser kedudukan Portugis di Kupang. Pada tahun 1701, untuk pertama
kali di Kupang didirikan sekolah dasar dan persatuan jemaat Kristen oleh
pendeta keliling. Pusat agama Kristen mula-mula di Bau-bau kemudian pindah ke
Kupang. Sejak itu wilayah NTT di bagian selatan banyak dikuasai oleh Zending
gereja Protestan. Terlebih, kemudian Belanda dengan cerdik mengikat raja-raja
di wilayah ini dengan kontrak.
Di
samping dua kekuatan agama tersebut, Islam telah pula hadir. Ketika Portugis
datang ke NTT, Solor, Alor, Pulau Ende dan Manggarai telah dikuasai orang-orang
Islam. Di Alor, pada abad ke-15, telah terdapat perintis Islam yang belajar
dari Ngampel, Surabaya. Selain pengaruh Jawa, ada tiga kerajaan Islam yang
memberikan warna pada persebaran Islam di NTT, yaitu Bima, Bugis, dan Ternate.
Kesultanan Bima mempunyai hubungan erat dengan wilayah bagian barat Pulau
Flores, yaitu Manggarai. Menurut JL Gordon (1972), mulai tahun 1600 Manggarai
memberikan upeti kepada Sultan Bima.
Kesultanan
Bima bersaing dengan Kerajaan Gowa Makassar dalam memperebutkan pengaruh dan
penguasaan ekonomi. Bagi Bugis/Makassar, kepentingan perdagangan menjadi alasan
utama penguasaan wilayah ini. Sementara itu, bagi Kesultanan Ternate, NTT
merupakan wilayah penting untuk menunjukkan kedaulatannya.
Penyebar
agama Islam pada awal masuknya Islam pertama di Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah
para pedagang dan ulama yang telah dimulai pada abad ke-15 di Pulau Solor,
Kabupaten Flores Timur.
Peneliti
dan penulis buku tentang sejarah Islam di NTT, Munandjar Widiyatmika
mengatakan, penyebaran agama Islam ini pertama dilakukan seorang ulama pedagang
dari Pelembang yang bernama Syahbudin bin Salman Al Faris yang kemudian dikenal
dengan sebutan Sultan Menanga. Dari sumber-sumber sejarah yang berhasil dia himpun,
agama Islam masuk pertama kali di pulau Solor di Menanga pada abat ke-15
kemudian ke Pulau Ende dan Alor. Solor menjadi daerah pertama penyebaran agama
Islam di NTT karena letaknya strategis dengan bandar-bandar penting di
Pamakayo, Lohayong, Menanga dan Labala, sangat penting bagi kapal yang menunggu
angin untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Timor dan Maluku, demikian pula di
Pulau Ende dan Alor.
Masuknya agama
Islam ini dibawa oleh pedagang sehingga sangat wajar kalau penyebarannya
dilakukan mulai di sekitar bandar-bandar startegis yang banyak dikunjungi para
pedagang Islam dari luar, dan Solor adalah daerah peristirahatan sebelum ke
pusat penghasil cendana di Pulau Timor.
Mengenai pola
pendekatan, perintis penyebar agama Islam di NTT asal Palembang ini menggunakan
pendekatan kekeluargaan dan memegang tokoh-tokoh kunci daerah setempat. Di Solor
misalnya, penyebar agama ini kawin dengan seorang puteri raja Sangaji Dasi dan
menjadi orang pertama yang memeluk agama Islam di NTT dan kemudian diikuti
anggota keluarganya.
Artinya, berkat
pengaruh Sangaji Dasi, keluarga dan pengikutnya dengan mudah diajak menjadi
pemeluk agama Islam. Bahkan untuk kepentingan pengembangan agama Islam di
Solor, Sultan Menanga kemudian ditempatkan di perbatasan antara kerajaan
Lamakera dan Lohayong dan berhasil membangun kampung muslim pertama di Menanga.
Agama Islam kemudian
tersebar ke daerah lain seperti Alor, dan seluruh Flores, Timor dan Sumba.
Sejak masuknya
agama Islam di NTT sampai abat ke-16, para perintis belum tergerak mewujudkan
lembaga sosial keagamaan Islam dan lembaga pendidikan Islam sebagai penunjang
penyebaran agama Islam.
Hal ini berbeda
dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa yang tidak saja ditunjang para wali
dan ulama tetapi juga sistem pendidikan di Pondok Pesantren.
Sejak
orang-orang dari Numba menyerang dan membunuh orang-orang Portugis di benteng
dan orang-orang Portugis lari ke Flores, orang-orang katolik di Pulau Ende
lambat laun menganut agama Islam.
Orang-orang
(Pulau) Ende yang telah menganut agama Islam kemudian menjadi penyebar agama
Islam ke Sumba. Ketika itu Sumba yang masih menganut sistem swapraja, banyak
pedagang Islam dari Ende-Flores kawin dengan putri dan putra seorang kepala
suku atau raja seperti Umbu Kamballu dari Kabizu Laimuru di desa Patawang yang
beristerikan seorang putri asal Ende-Flores juga seorang putri Sumba, Rambu
Hana Ndapanjalu yang menikah dengan seorang putera Ende bernama Pua Ali
termasuk Rambu Ndanga Leu adik dari Rambu Hana Ndapanjalu yang menikah dengan
Da,e Saruni dari kampung Roja di Ende (Menyisir Sejarah Islam di Sumba
Timur, Djunaidi Garib, Waingapu).
Ketua Majelis
Ulama (MUI) Kabupaten Ende, Abdurahman Aroeboesman yang adalah keturunan Raja
Ende mengatakan, pada masa penjajahan Portugis, seluruh warga di Pulau Ende
menganut agama Katolik. Namun pada abat ke-13, para bajak laut dari Jawa dan
Sulawesi (Makasar) melakukan penyerbuan ke Pulau Ende. Penyerbuan dan
pembakaran yang dilakukan itu menyebabkan orang-orang Katolik lari ke Solor dan
pulau Flores. Orang-orang Barai yang takut terhadap bajak laut dari Jawa dan
Sulawesi ini kemudian lari ke Barai yang ada di Pulau Flores. Mulai saat itu,
Pulau Ende dikuasai para pedagang dan bajak laut dari Jawan dan Sulawesi dan
mulai menyebarkan agama Islam di sana. Para penyebar agama Islam di Pulau Ende
semula berasal dari Mesir dan ada yang dari Jawa juga Makasar.
Waktu itu, kata
Abdurahman Aroeboesman, sekitar akhir abat ke-16, datanglah Karaeng Aru
Sambayang ke Pulau Ende. Namun saat dia tiba, warga sudah memeluk agama Islam.
Kemudian raja Ende juga memeluk agama Islam dan mulai menyebar ke penduduk.
Orang pertama yang diyakini menyebarkan agama Islam pertama di Pulau Ende
adalah Batullah yang berasal dari Mesir. Orang Pulau Ende yang pertama memeluk
agama Islam terdapat di Kemo di dekat Kerimando namun tidak diketahui secara
pasti siapa yang saat itu memeluk agama Islam pertama di Pulau Ende. Sedangkan
orang yang menjadi pemilik tanah pertama adalah Embu Tipo dari Rodja yang masuk
pertama di Metinumba.
Menurutnya,
orang pertama yang tempati Pulau Ende adalah Redodori dan Ndoriwoi. Ndoriwoi
adalah perempuan jelmaan sedangkan Redodori adalah laki-laki nelayan di Pulau
Ende. Setiap hari di bekerja membuat perahu dan saat kembali ke rumah makanan
sudah disiapkan. Dia sangat kaget dan berupaya mencari tahu siapa yang telah
menyiapkan makanan untuknya. Maka dicarinya siasat untuk menemukan orang yang
telah menyiapkan makanan untuknya. Dipanggilnya warga desa dan dikumpulkan. Dia
meminta seluruh warga memakan sirih pinang dan airnya dikumpulkan. Warna merah
dari sirih pinang itu disiram keliling perahu dan kepada warga diminta untuk
menyiarkan khabar bahwa Redodori telah meninggal. Mendengar khabar itu,
Ndoriwoi yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Redodori datang dan menangis
mengelilingi perahu milik Redodori yang berlumuran darah sirih pinang. Melihat
kehadiran Ndoriwoi dalam wujud manusia yang tidak pernah mereka kenal
sebelumnya, Redodori bersama warga langsung menangkapnya. Ndoriwoi kemudian
kawin dengan Redodori dan anak keturunan mereka kemudian menjadi penghuni Pulau
Ende hingga saat ini. Namun, lanjutnya, selain didiami penduduk asli, Pulau
Ende juga didiami oleh penduduk yang berasal dari Luwuk, Bone, Sulawesi.
Abdurahman
Aroeboesman mengakui, sejarah masuknya agama Islam di Pulau Ende memang belum
dicatat secara baik sehingga saat ini sumber-sumber tentang penyebaran agama
Islam di Pulau Ende bahkan Ende secara umum sulit ditemukan. Namun, lanjutnya,
Pulau Ende yang pada masa penguasaan Portugis penduduk seluruhnya beragama
Katolik, saat ini semuanya menganut agama Islam.
Pulau Ende
masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Ende dan merupakan salah satu
kecamatan dari 20 kecamatan yang ada di Kabupaten Ende. Letak Pulau Ende tepat
berada di depan Kota Ende yang adalah Ibukota Kabupaten Ende. Pulau dengan luas
keseluruhan 63,03 kilometer persegi ini, saat ini didiami lebih kurang 8.621
penduduk. Pulau Ende memiliki tujuh desa yakni Desa Redodori, Aejeti,
Rorurangga, Puutara, Paderape, Rendoraterua, Ndoriwoi dan Redodori. Pulau Ende
berada tepat persis di depan Kota Ende. Jarak tempuh dari Ende ke Pulau Ende
hanya memakan waktu 45 menit sampai satu jam. Jaraknya diperkirakan sepanjang
65 kilometer atau sebanding dengan jarak Ende ke Kecamatan Nangapanda jika
melalui jalan darat.
TABEL LUAS WILAYAH, JUMLAH PENDUDUK
DIPERINCI PER DESA DI KECAMATAN PULAU ENDE
|
D E S A
|
Luas Wilayah (KM)
|
Penduduk
|
|||||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
|||||
|
9,53
6,50 4,69 9,73 14,29 14,29 4,00 |
624
508 538 737 821 500 581 |
570
572 527 841 816 541 505 |
1 194
1 020 1 065 1 578 1 637 1 041 1 086 |
|||
J u m l a h
|
63,03
|
4 309
|
4 312
|
8 621
|
|||
Pulau Ende
dengan luas yang hanya 63,03 kilometer persegi sangat tidak bisa menunjang
kehidupan masyarakat dari hasil pertanian. Lahan yang sempit tidak dapat
ditanami
tanaman pertanian dalam jumlah yang besar. Penduduk hanya menanam jagung, ubi
dan kelapa. Hasilnya pun tidak seberapa sehingga hanya untuk memenuhi kebutuhan
sendiri yang terkadang tidak mencukupi itu. Tanaman lain yang masih dapat
dinikmati hasilnya oleh masyarakat adalah jambu mete dan mangga. Namun, tanaman
ini juga tidak seberapa sehingga mereka tidak bisa sepenuhnya menggantungkan
hidup dari hasil-hasil pertanian. Padahal dari tingkat kesuburan, masyarakat
mengakui tanah di Pulau Ende tergolong subur. “Tanam apa saja tumbuh dan bisa
menghasilkan dengan baik,” Kata Abdul Madjid Pua Ngepa, warga Pulau Ende.
Haji Muhamad
Yasin, pensiunan guru warga Desa Rorurangga mengatakan, masyarakat Pulau Ende
merupakan masyarakat mayoritas pelaut yang kehidupannya sepenuhnya bergantung
pada hasil-hasil laut. Hasil dari berkebun tidak seberapa dan hanya untuk
mencukupi kebutuhan harian. Selain karena lahan yang sempit, ada warga juga
tidak punya lahan untuk berkebun. Kalaupun mau berkebun, warga yang tidak punya
lahan harus menyewanya kepada pemilik lahan. Satu-satunya sumber penghidupan
masyarakat yang tidak akan pernah habis-habisnya hanyalah dari hasil laut.
Selain mengharapkan hasil laut, warga Pulau Ende juga menggantungkan hidup dari
laut lewat menjalankan usaha taxi laut, perahu penumpang yang oleh warga Pulau
Ende lebih dikenal dengan taxi.
Walau hanya
menggantungkan hidup dari hasil laut, kata Haji Muhamad Yasin, namun kebutuhan
masyarakat tercukupi. Dia mengakui, Pulau Ende memang memiliki keunggulan tersendiri.
Hasil laut tidak pernah habis-habisnya walau diambil setiap hari. Bahkan,
setiap tahun Pulau Ende selalu menjadi daerah penyumbang jamaah calon haji
terbanyak. “Tiap tahun pasti ada calon haji dari Pulau Ende. Hanya satu
sekalipun, tetap ada calon haji dari sini,” katanya bangga.
Kehidupan
masyarakat yang hanya bergantung dari hasil laut namun terkadang masih
disalahgunakan. Memang tidak dapat dipungkiri. Masyarakat nelayan Pulau Ende
selalu diidentikan dengan nelayan tukang bom ikan. Di NTT sudah sering warga
nelayan Pulau Ende ditangkap aparat dan diproses hukum gara-gara membom ikan.
Namun, kebiasaan itu saat ini sudah mulai berkurang dan hanya tersisa di satu
dua desa nelayan. Menurut pengakuan Kepala Desa Rorurangga, Juanidi P.S, hampir
setiap hari selalu terdengar dentuman bom ikan di perairan laut Pulau Ende.
Hanya saja mereka tidak tahu nelayan dari desa mana yang masih menangkap ikan
menggunakan bom di perairan laut Pulau Ende.
Omong soal bom
ikan, Abdul Madjid Pua Ngepa (50), nelayan dari Dusun Ekoreko Desa Rorurangga
bilang, di dalam keluarganya sejak nenek moyangnya dulu, sangat anti terhadap
penggunaan bom ikan. Orangtua dulu selalu berpesan agar tidak menangkap ikan
menggunakan bom. Kalau menggunakan bom, pesan orangtuanya, kalian tidak bisa
bersahabat dengan semua orang. Kalau melihat ada orang berseragam langsung
takut karena dikira petugas yang akan menangkap. Menggunakan bom juga membuat
rusak lingkungan laut dan itu sama saja dengan membuat susah sesama karena
kalau laut rusak hasil tangkapan akan berkurang. Apalagi, nelayan di Pulau Ende
rata-rata masih menggunakan alat tangkap sederhana dan tradisional. Sehingga,
para nelayan masih menangkap ikan di seputar perairan Pulau Ende. Karena itu,
Abdul Madjid Pua Ngepa katakan, orangtuanya selalu berpesan agar tidak boleh
menggunakan bom untuk dapatkan ikan.
Kehidupan
masyarakat Pulau Ende memang terbilang sederhana. Selama tiga hari tinggal
bersama Bapak Abdul Madjid Pua Ngepa, saya begitu merasakan kesederhanaan itu.
Kendati memasuki hari raya Idul Fitri, persiapan tidak begitu mentereng. Ada
tetangga yang sudah mulai mengecat aneka warna rumah mereka namun keluarga
bapak Pua Ngepa memilih merayakannya dengan persiapan yang biasa saja. Ibu
Arfah hanya membuat beberapa kue kering untuk disajikan kepada tamu. Dodol yang
menjadi penganan khas Pulau Ende tidak dibuatnya.
Keramahtamahan
warga Pulau Ende juga sangat terasa. Mereka sangat menghormati tamu. Bahkan
kehadiran saya pada saat hari puasa diterima begitu familiar. Semula saya mau tidur
di rumah bapak Imam Masjid Nurul Iman, Jaidun Mandar. Namun kemudian pindah
lagi ke rumah bapak Pua Ngepa. Saat tiba di Pulau Ende, saya sudah disambut
bapak Jaidun Mandar di tepi pantai pelabuhan rakyat.
Walau sudah
menolak dibuatkan minum demi menghargai yang sedang berpuasa, toh tetap
dibuatkan juga. Memang sudah menjadi adat, setiap tamu harus disuguhkan minum.
Saya tetap disuguhkan kopi susu dan dodol khas Pulau Ende. Seorang kerabat
bapak Jaidun Mandar yang katanya sudah berbuka lebih dahulu menemani minum sore
itu. Sebelumnya, mereka sudah tahu bahwa saya bukan Muslim. Secara pribadi,
saya merasa begitu dihargai karena walau sedang berpuasa, toh mereka masih
menyiapkan minuman untuk saya bahkan ada kerabat yang sudah berbuka dan
menemani saya minum.
Pada titik ini,
toleransi masyarakat Pulau Ende sangat tinggi. Walau berada di Pulau yang
seratus persen Islam, toh mereka masih menunjukan toleransi bagi sesama saudara
yang beragama lain yang datang di Pulau Ende.
Pulau Ende
memang unik. Pertama unik karena seratus persen penduduknya beragama Islam.
mereka mayoritas di tengah minoritas mengingat NTT dikenal mayoritas beragama
Kristen. Kedua, di Pulau Edne tidak ada air tawar. Sumur yang ada di sana
airnya berasa payau. Namun sekarang mereka sedikit terbantu dengan hadirnya
program penampung air hujan (PAH) dari UNICEF sehingga saat ini semua rumah di
Pulau Ende sudah memiliki bak penampung air hujan. Keunikan yang ketiga adalah
di pulau ini tidak ada mobil penumpang sehingga satu-satunya alat transportasi
adalah sepeda motor ojek. Warga pulau ini dulunya juga terkenal dengan
kebiasaan buruk buang air besar (BAB) di pinggir pantai. Tapi, kebiasaan ini
kata Kepala Desa Rorurangga, Junaidi P.S kian berkurang. Hal itu karena saat
ini semua rumah sudah memiliki jamban yang juga merupakan bantuan dari UNICEF.
Tapi kebiasaan itu tidak bisa dihilangkan secara total. Kebiasaan yang sudah
lama ada itu butuh waktu untuk menghilangkannya.
Masyarakat
Pulau Ende yang seratus persen penduduknya beragama Islam tidak menutup diri
terhadap kehadiran orang luar. Ada juga warga dari luar yang beragama lain
diterima dengan baik di sana. Ada pegawai pemerintah yang beragama Katolik dan
Hindu pernah juga ditempatkan di sana. Mereka juga diterima dengan baik dan
bertugas di sana hingga masa tugas berakhir. Hanya saja mereka terkadang
mengalami kesulitan. Terutama tempat ibadah karena memang di Pulau Ende tidak
ada rumah ibadah dari agama lain. Di sana hanya ada masjid dan langgar. Jumlah
masjid yang ada di tujuh desa itu sebanyak 13 dan langgar sebanyak tiga buah.
Menariknya
lagi, masjid dan langgar itu dibangun dari swadaya masyarakat walau mereka
sadari mengalami keterbatasan ekonomi.
Sebagaimana
diakui Imam Masjid Nurul Iman Ekoreko, Jaidun Mandar, masjid Nurul Iman yang
direhab merupakan swadaya murni masyarakat. Mereka tidak pernah meminta bantuan
dari pihak luar. Bahkan, penduduk di desa tetangga pun tidak pernah dimintai
bantuan saat membangun masjid dimaksud.
Penduduk Pulau
Ende terbilang sangat menjaga ketentaraman dan hubungan baik dengan masyarakat
Kota Ende yang mayoritas bergama Katolik. Penduduk tidak pernah mau mengambil
sikap ketika terjadi persoalan yang terkait dengan masyarakat di Kota Ende.
Kendati beberapa kali di Kota Ende terjadi perkelahian antar kampung yang
menjurus ke persoalan agama, toh penduduk Pulau Ende tidak mengambil urus
persoalan seperti itu.
Kehidupan
masyarakat Pulau Ende demikian tentram dan damai. Damai menjelang hari raya
Idul Fitri. Hujan makin membesar di luar rumah. Waktu telah beranjak memasuki
pukul 22.45 saat terdengar alunan irama dangdut menghentak di tengah laut Pulau
Ende. Malam takbiran di atas perahu yang sebelumnya sekira pukul 19.00 bergerak
dari Dermaga Pulau Ende mengumandangkan takbir shalawat Allah hu Akbar, kini
telah berganti dengan irama dangdut yang menghentak membuat suasana malam
takbiran dalam perjalanan pulang itu kian semarak.